Kamis, 27 Maret 2014
OPINIKU: Tidak Perlu Terlalu Khawatir Berlebihan
OPINIKU: Tidak Perlu Terlalu Khawatir Berlebihan: "Khawatir adalah hal yang sering kita dengar dan kita alami. Untuk hal yang kecil pun kadang kita sering khawatir apalagi untuk hal d...
Tidak Perlu Terlalu Khawatir Berlebihan
"Khawatir adalah hal
yang sering kita dengar dan kita alami. Untuk hal yang kecil pun kadang kita
sering khawatir apalagi untuk hal dan tanggung jawab yang besar. Untuk seorang
yang baru saja mendapatkan tugas baru, apakah itu dipromosikan atau mendapatkan
pekerjaan baru dengan jabatan yang lebih keren dari sebelumnya tentu pernah mengalami
rasa khawatir. Mereka mungkin akan khawatir, bagaimana dia bisa menjalankan
tugasnya, khawatir apakah anak buahnya akan senang atau sebaliknya, khawatir
apakah nanti bebannya berat atau tidak. Kekhawatiran itu adalah hal yang masih
dalam tahap yang wajar.
Namun kita juga sering
melihat dan menjumpai ada beberapa kekhawatiran yang sebenarnya tidak perlu
terjadi, yaitu kekhawatiran bahwa apakah nanti akan mendapatkan pujian, ataukah
sebaliknya. Apakah nanti berhasil menorehkan suatu prestasi atau tidak. Karena
saking khawatirnya maka kadang orang dalam kondisi ini akan menerima masukan
dari berbagai pihak dengan panik. Semua masukan di dengarkan karena ingin menyenangkan
berbagai pihak agar supaya nantinya tujuan tercapai. Masukan bahwa cara si A dulu salah, cara
si B tidak tepat, si D itu begini dan begitu dan akhirnya timbulah suatu
kekhawatiran yang diakibatkan oleh gosip dan berdasarkan, "katanya",
"katanya" dan "katanya". Dalam hal ini kekhawatian tersebut
tidak perlu terjadi apabila kita mempunyai prinsip dan mempunyai arah jelas,
pasti dan dapat dipertanggungjawabkan. Mungkin masukan itu perlu, namun masukan
juga perlu disaring dan dipilah pilah serta harus berdasarkan bukti dan pedoman
serta data yang jelas dan bukan karena “katanya”. Karena jika hal tersebut
terjadi maka yang ada adalah keputusan yang tidak fair, atau keputusan
berdasarkan asumsi kecurigaan. Atau hal lainnya yang tidak terpikirkan
akan timbul dan malah akan menambah banyak kekhawatiran baru.
Kekhawatiran yang
lainnya adalah kekhawatiran tentang kita dalam menjalani hidup. Senior pernah
bercerita tentang kekhawatiran. Cerita kekhawatiran ini menceritakan tentang
dua orang pelancong yang sedang mendaki gunung.
Ada dua orang pelancong Bule yang melakukan pendakian di sebuah
gunung. Saat pulang, mereka
terpaksa menumpang sebuah mobil rombeng.
Jalannya ter-sendat² karena mesin tuanya.
Sepanjang perjalanan, pelancong pertama sibuk mencemaskan
kondisi mobil.
Ia terbekap rasa khawatir jila nanti mobil yang mereka tumpangi
akan mogok di tengah jalan. Ia khawatir kalo bensinnya habis dan tidak
ada pom bensin di sana.
Sementara, pelancong kedua tampak santai² saja. Ia begitu
menikmati pemandangan indah, melihat bukit-bukit yang mereka lewati. itu.
Sepanjang perjalanan melewati bukit yang pucuknya dihiasi salju putih.
Beberapa kali ia mengabadikan keindahan itu dengan kamera
pocketnya. Setelah satu jam berlalu, akhirnya mobil uzur itu pun tiba di
kota yang dituju.
Pelancong bule yang merasa khawatir tersebut bertanya kepada
temannya yang menikmati pemandangan , “Kok kamu sempat²nya ambil gambar
pemandangan itu? Apa kamu tidak cemas?,” tanya pelancong pertama.
Kata Pelancong kedua : “Apa yang perlu dicemaskan?. Kalau
menurut aku seandainya ada masalah, pasti nantikan ada jalan keluarnya”.Jadi
aku akan menikmati perjalanan yang aku lakukan, apalagi perjalanan ini baru
pertama kali buat aku.””Aku
suka dengan perjalanan tadi,” kata pelancong kedua.
Kisah di atas menolong kita untuk memahami bagaimana seringkali
kekhawatiran membuat kita kehilangan banyak hal yang berharga. Lebih
buruknya lagi, seringkali kekhawatiran itu tidak terbukti separah yang
kita khawatirkan atau malah tidak terbukti sama sekali.
Banyak orang hidup dalam kekhawatiran dan cemas mengenai apa
yang belum terjadi. Orang
sering takut dan tidak tau apa yang ia takuti. Akhirnya, orang seperti ini
tidak akan menikmati kehidupan.
Kebahagiaan hidup hanya menjadi milik orang-orang yang mampu menikmatinya
dengan penuh syukur.
Waktu hanya sekali berputar, tanggal hanya sekali dalam 1 hari
dan akan berbeda lagi untuk esok hari. Ada menit yang harus dilalui dengan MANIS, ada pula menit yang
harus dilalui dengan PAHIT. JALANILAH
SETIAP DETIK DGN PENUH KESADARAN, AGAR KITA MENJADI LEBIH BIJAKSANA DALAM
MENJALANI KEHIDUPAN INI. Berikan yang terbaik yang bisa kita lakukan di manapun
kita berada dengan penuh optimis dan berpikiran positif.
Selamat menjalankan hari dengan Pikiran yang Positif !
Keep
Positive Thingking
and
You
will get a lot of Positive Things
Sabtu, 22 Maret 2014
Disiplin di Sekolah Tanggung Jawab Siapa?
Mengantar anak ke sekolah adalah rutinitas setiap pagi, tak terkecuali hari ini saya mengantar anak anak ke sekolah. Rutinitas ini dijalani selama anak anak masih terikat jadwal sekolah . Jam masuk sekolah pukul 06.30, jadi kami harus berangkat selambat lambatnya pukul 06.00 sudah harus keluar komplek. Lebih 1 menit saja, pasti jalanan sudah macet karena yang sekolah bukan hanya anak anak saya saja tetapi juga semua anak Indonesia berangkat pagi untuk bersekolah.
Beruntung beberapa bulan ini sepanjang jalan dari rumah ke sekolah sudah tidak ada pengerjaan galian,atau pengaspalan, sehingga waktu tempuh dari rumah ke sekolah kurang lebih 15 menit. Dengan waktu tempuh itu pasti anak anak tidak akan terlambat ke sekolah. Sambil menunggu bel berbunyi saya beserta ibu ibu lainnya duduk di pinggiran kelas sambil mengamati anak kita masing masing. Tingkah dan candaan mereka kalau kita dengar pasti agak aneh dan sering membuat kita tersenyum dalam hati. maklum mereka masih polos dan baru tahun pertama di sekolah dasar. Setelah bel berbunyi semua anak tertib masuk ke kelas, dan kami para orang tua berangsur meninggalkan sekolah. Sayup sayup terdengar suara selamat pagi dan mulai berdoa pagi.
Tetapi begitu saya sampai pintu gerbang sekolah yang masih terbuka meskipun bel sudah berbunyi, masih ada saja anak yang berdatangan karena terlambat. Memang di sekolah anak saya jika datang terlambat diwajibkan ke ruang guru untuk menuliskan alasan keterlambatan. Atau kalau terlambatnya masih 10 menit diperbolehkan masuk namun setelah selesai berdoa pagi.
Sambil berjalan saya melihat ke lantai 2 karena ada kegaduhan di sana, sepertinya dari kelas 4 yang ternyata memang gurunya belum masuk ke kelas. Kemudian saya melihat 2 orang guru, baru datang menuju ke lantai 2. Rasanya aneh juga , di mana kelas lainnya sudah senyap dengan doa pagi dan mulai pelajaran , masih ada kegaduhan di kelas lainnya karena gurunya datang terlambat ke kelas.
Jika seperti ini sebenarnya siapakah yang tidak disiplin ya? muridnya atau gurunya? pertanyaan lain muncul ketika saya akan meninggalkan sekolah, masih ada saja murid murid yang berdatangan. Pertanyaan usil saya muncul, sebenarnya anaknya yang tidak disiplin atau orang tuanya yang mengantar sekolah ya yang tidak disiplin?
Hal yang lebih aneh lagi terjadi masih ada guru yang tergopoh gopoh lari menuju ruang guru untuk mengambil buku pelajarannya dan kemudian lari menuju kelasnya padahal bel sudah berbunyi kira kira 10 menit yang lalu. Sekarang saya baru tahu kenapa pintu gerbang sekolah tidak ditutup, hal itu untuk memfasilitasi mereka yang terlambat baik murid, guru, dan orang tua yang terlambat mengantar anaknya.
Jadi sebenarnya disiplin itu siapa yang harus menerapkan? anak? orang tua? guru? pihak sekolah? atau semuanya?
Kita sebagai orang tua, guru dan panutan anak anak, harus mulai menerapkan disiplin dari diri sendiri dan tentunya disertai komitmen kepada mereka. Pesan buat guru dan sekolah supaya memberikan komitmen yang tegas tentang disiplin, karena semua tingkah laku orang dewasa di seluruh Indonesia dimulai dari disiplin yang mereka terapkan sejak kecil. Jika tidak ada disiplin pastilah banyak ditemua kesemrawutan di mana mana, seperti yang sering kita jumpai.
Beruntung beberapa bulan ini sepanjang jalan dari rumah ke sekolah sudah tidak ada pengerjaan galian,atau pengaspalan, sehingga waktu tempuh dari rumah ke sekolah kurang lebih 15 menit. Dengan waktu tempuh itu pasti anak anak tidak akan terlambat ke sekolah. Sambil menunggu bel berbunyi saya beserta ibu ibu lainnya duduk di pinggiran kelas sambil mengamati anak kita masing masing. Tingkah dan candaan mereka kalau kita dengar pasti agak aneh dan sering membuat kita tersenyum dalam hati. maklum mereka masih polos dan baru tahun pertama di sekolah dasar. Setelah bel berbunyi semua anak tertib masuk ke kelas, dan kami para orang tua berangsur meninggalkan sekolah. Sayup sayup terdengar suara selamat pagi dan mulai berdoa pagi.
Tetapi begitu saya sampai pintu gerbang sekolah yang masih terbuka meskipun bel sudah berbunyi, masih ada saja anak yang berdatangan karena terlambat. Memang di sekolah anak saya jika datang terlambat diwajibkan ke ruang guru untuk menuliskan alasan keterlambatan. Atau kalau terlambatnya masih 10 menit diperbolehkan masuk namun setelah selesai berdoa pagi.
Sambil berjalan saya melihat ke lantai 2 karena ada kegaduhan di sana, sepertinya dari kelas 4 yang ternyata memang gurunya belum masuk ke kelas. Kemudian saya melihat 2 orang guru, baru datang menuju ke lantai 2. Rasanya aneh juga , di mana kelas lainnya sudah senyap dengan doa pagi dan mulai pelajaran , masih ada kegaduhan di kelas lainnya karena gurunya datang terlambat ke kelas.
Jika seperti ini sebenarnya siapakah yang tidak disiplin ya? muridnya atau gurunya? pertanyaan lain muncul ketika saya akan meninggalkan sekolah, masih ada saja murid murid yang berdatangan. Pertanyaan usil saya muncul, sebenarnya anaknya yang tidak disiplin atau orang tuanya yang mengantar sekolah ya yang tidak disiplin?
Hal yang lebih aneh lagi terjadi masih ada guru yang tergopoh gopoh lari menuju ruang guru untuk mengambil buku pelajarannya dan kemudian lari menuju kelasnya padahal bel sudah berbunyi kira kira 10 menit yang lalu. Sekarang saya baru tahu kenapa pintu gerbang sekolah tidak ditutup, hal itu untuk memfasilitasi mereka yang terlambat baik murid, guru, dan orang tua yang terlambat mengantar anaknya.
Jadi sebenarnya disiplin itu siapa yang harus menerapkan? anak? orang tua? guru? pihak sekolah? atau semuanya?
Kita sebagai orang tua, guru dan panutan anak anak, harus mulai menerapkan disiplin dari diri sendiri dan tentunya disertai komitmen kepada mereka. Pesan buat guru dan sekolah supaya memberikan komitmen yang tegas tentang disiplin, karena semua tingkah laku orang dewasa di seluruh Indonesia dimulai dari disiplin yang mereka terapkan sejak kecil. Jika tidak ada disiplin pastilah banyak ditemua kesemrawutan di mana mana, seperti yang sering kita jumpai.
Rabu, 19 Maret 2014
Semua Berasal dari Kebiasaan
Hari ini 19 Maret 2014, saya mendapatkan email dari pengajar senior yang selalu tidak henti hentinya mengirimkan tulisan tulisan inspiratifnya. Tulisan inspiratif ini tentu bukan hanya tulisan beliau sendiri, tulisan inspiratif ini mungkin dari berbagai macam sumber.
Berikut tulisan inspiratif tentang sesuatu yang besar baik itu positif maupun negatif semua berawal dari kebiasaan yang dilakukan. Tanpa kita sadari kebiasaan akan berkumpul dan menumpuk bahkan dapat berakar dan menjalar seperti akar pohon yang begitu kuat.
Kebiasaan itu dapat berupa kebiasaan baik ataupun kebiasaan buruk. Kebiasaan baik atau kebiasaan buruk yang kita lakukan menjadikan kita terbiasa, dan terakumulasi sehingga membentuk suatu tindakan yang tanpa kita sadari akan muncul dalam keseharian sehingga menimbulkan sebuah karakter yang kuat.
Berikut tulisan inspiratif tentang sesuatu yang besar baik itu positif maupun negatif semua berawal dari kebiasaan yang dilakukan. Tanpa kita sadari kebiasaan akan berkumpul dan menumpuk bahkan dapat berakar dan menjalar seperti akar pohon yang begitu kuat.
Kebiasaan itu dapat berupa kebiasaan baik ataupun kebiasaan buruk. Kebiasaan baik atau kebiasaan buruk yang kita lakukan menjadikan kita terbiasa, dan terakumulasi sehingga membentuk suatu tindakan yang tanpa kita sadari akan muncul dalam keseharian sehingga menimbulkan sebuah karakter yang kuat.
Suatu hari seorang tua bijaksana berjalan melalui hutan bersama anak muda yang terkenal tidak bertanggung-jawab dan kepala batu.
Orang tua itu menghentikan langkahnya, lalu menunjuk sebuah pohon yang masih kecil, “Cabutlah pohon itu”, katanya. Segera pemuda itu membungkuk, dan hanya dengan dua jari saja ia dapat mencabut pohon itu.
Setelah berjalan lebih jauh lagi, orang tua itu berhenti di depan sebuah pohon yang agak besar. “Coba cabut pohon ini”, katanya. Sekali lagi pemuda itu menuruti perintahnya, namun kali ini dia menggunakan kedua tangannya dan dengan sekuat tenaga mencabut pohon itu sampai ke akarnya.
Akhirnya, mereka berhenti di dekat sebuah pohon yang sangat besar. “Sekarang, cabutlah pohon ini!”, perintahnya lagi.
“Wah, itu tidak mungkin!” protes pemuda itu. “Aku tidak dapat mencabut pohon sebesar ini, untuk memindahkannya diperlukan sebuah buldozer!”
“Engkau benar sekali”, jawab orang tua itu. “Kebiasaan, entah baik ataupun buruk, sama seperti pohon-pohon itu..."
Kebiasaan yang belum berakar dalam seperti pohon yang masih sangat kecil, dapat dicabut dengan sangat mudah.
Kebiasaan yang akarnya mulai mendalam seperti pohon yang sudah agak besar, untuk mencabutnya diperlukan usaha dan tenaga yang kuat.
Kebiasaan yang sudah sangat lama, telah berurat akar sangat dalam dan mencengkeram, sehingga orang itu sendiri tidak bisa lagi mencabutnya.
Oleh karena itu, berhati-hatilah membentuk kebiasaan. Jagalah agar kebiasaan yang sedang ditanamkan adalah kebiasaan baik.
Coba ambil waktu dan mari kita selidiki diri kita. Adakah kebiasaan buruk kita yang masih sangat kecil tertanam di diri kita?
Adakah ‘pohon’ buruk yang sudah agak besar?
Yang lebih penting, adakah ‘pohon’ besar yang sudah tertanam begitu lama?
Jika ada, carilah penyelesaian masalah atas kebiasaan buruk kita dan marilah berubah.
Selamat introspeksi diri dan berani mengambil keputusan untuk melakukan perubahan ke arah yang benar dan lebih baik dari hari ke hari.
Terimakasih untuk Senior saya atas email ini.
Kamis, 27 Februari 2014
cerita perjuangan yang inspiratif
Hari ini, saya membuka email saya dan mendapatkan email yang cukup inspiratif dari salah satu kolega yang disebarkan melalui millis. Entah siapa yang pertama kali menuliskan cerita ini, namun bagi saya tidak ada salahnya jika cerita ini saya bagikan dalam blog ini untuk dapat dibaca oleh teman teman saya. Sebelumnya saya minta ijin untuk menyebarkan tulisan ini yang saya tulis ulang. Untuk penulis pertama yang mengunggah tulisan ini di millis mohon ijin untuk share di blog ini.
Cerita ini berkisah tentang seseorang yang mempunyai mimpi besar dan berjuang untuk mewujudkannya tanpa pernah dia tahu hal itu akan terwujud di kemudian hari. Bagi pengguna smartphone pasti tidak asing lagi dengan aplikasi whatsApp. Aplikasi ini populer setelah aplikasi BBM, dan sebelum aplikasi lainnya seperti line.kakao talk dll. Banyak yang belum tahu siapa sebenarnya pencetus aplikasi WhatsApp, namun belakangan setelah aplikasi ini dibeli oleh perusahaan besar barulah semua tahu siapa sebenarnya Jan Koun.
Cerita ini berkisah tentang seseorang yang mempunyai mimpi besar dan berjuang untuk mewujudkannya tanpa pernah dia tahu hal itu akan terwujud di kemudian hari. Bagi pengguna smartphone pasti tidak asing lagi dengan aplikasi whatsApp. Aplikasi ini populer setelah aplikasi BBM, dan sebelum aplikasi lainnya seperti line.kakao talk dll. Banyak yang belum tahu siapa sebenarnya pencetus aplikasi WhatsApp, namun belakangan setelah aplikasi ini dibeli oleh perusahaan besar barulah semua tahu siapa sebenarnya Jan Koun.
Jan Koun, pendiri WhatsApp(WA), lahir
dan tumbuh di Ukraina dari keluarga yang relatif miskin. Saat usia 16 thn ia
nekat pindah ke Amerika, demi mengejar apa yang kita kenal sebagai
"American Dream".
Di usia 17 tahun, ia hanya bisa
makan dari jatah pemerintah. Ia nyaris menjadi gelandangan!!! Tidur
beratap langit, beralaskan tanah. Utk ber-tahan hidup, dia bekerja sebagai
tukang bersih supermarket. Hidup begitu pahit, begitu Koun membatin.
Hidup mereka kian terjal saat ibunya
di diagnosa kanker. Mereka lalu hidup hanya dengan tunjangan kesehatan
seadanya. Koun lalu kuliah di San Jose University. Tapi ia milih drop out. Ia
lebih suka belajar programming secara otodidak.
Karena keahliannya sebagai programer,
Jan Koun, diterima bekerja sebagai engineer di Yahoo. Ia bekerja di Yahoo
selama 10 thn. Selama bekerja di Yahoo ia berteman akrab dengan Brian Acton. Mereka
berdua bikin WA thn 2009. Setelah resign dari Yahoo, mereka
berdua sempat melamar ke Google namun tidak diterima.
Setelah whatsApp resmi dibeli dengan
harga 209 triliun, Jan Koun melakukan ritual yang mengharukan. Ia datang ke
tempat di mana ia dulu setiap pagi antri untuk dapat jatah makan saat ia masih
remaja miskin berusia 17 tahun.Ia menyandarkan kepalanya ke dinding tempat
ia dulu antri dan mengenang saat itu bahkan untuk makan ia tidak punya uang. Pelan2
air matanya meleleh. Ia tak pernah menyangka perusahaannya dibeli dengan harga
yang fantastis. Ia lalu terkenang ibunya yang sudah meninggal (karena
kanker). Ibunya, yang rela menjahit baju buat dia demi menghemat. Tak ada uang,
nak... Jan Koun tercenung. Ia menyesal tak pernah bisa mengabarkan berita
ini kepada ibunya.
"Di tempat ini, nasib hidup
saya pernah dipertaruhkan ...", begitu mungkin Jan Koun berbisik
dalam hati.
Rezeki mungkin datang dari arah yang tak terduga.Remaja miskin yang dulu mendapat
jatah makan sekarang berubah menjadi milyader.
Terimakasih kepada penulis yang sudah membagikan cerita ini secara tidak langsung kepada saya dan kepada teman2 melalui blog ini. Tetap semangat bagi teman2 yang masih berjuang, karena rejeki akan datang dari mana saja tanpa kita duga selama kita mau berusaha.....................
...
Kamis, 06 Desember 2012
“1000” LANGKAH MENUJU ”1” KEPUTUSAN
Tahukan anda jika dalam mengambil suatu keputusan kita sering mengalami kebimbangan, ragu ragu, rasa tidak percaya diri, ketakutan, ancaman, atau efek lainnya yang akan ditimbulkan dari sebuah keputusan itu.
Kita mulai dari langkah awal kenapa kita harus mengambil suatu keputusan. Pertama kita dihadapkan dalam suatu masalah yang harus kita ambil keputusannya. Kedua kita menghadapi suatu pilihan sehingga kita harus memilih mana yang harus kita putuskan. Ketiga dalam hal kita dalam kebimbangan dimana kita harus membuat suatu langkah supaya kita keluar dari kebimbangan. Keempat adalah hal hal lain yang harus kita ambil dalam membuat suatu keputusan baik pribadi, kelompok maupun di dalam pekerjaan.
Seribu langkah disini artinya adalah usaha keras kita untuk akhirnya memilih, mengambil keputusan, waktu berpikir, usaha yang kita keluarkan, perhitungan resiko, pencarian data dan informasi dan hal lainnya yang akan menguatkan kita sehingga kita mengatakan " ya" ini jalan yang saya ambil. Itu adalah Seribu(1000) langkah yang sudah kita lalui dan akhirnya kita memilih "1" keputusan diantara "1000" alternatif yang seharusnya kita hargai sebagai usaha keras kita untuk menciptakan nilai"1" itu.
Kadang ada sebagian orang yang menyesali telah membuat "1" keputusan dan dia mencoba untuk mengambil alternatif lainnya. Mereka yang memilih itu pasti melupakan bahwa dia sudah berkorban dengan mencoba menghapus "1000" langkah yang dia sudah lalui dalam membuat " 1" Keputusan tersebut. Secara matematis nilai "1000" untuk menjadi angka "1" maka kita harus menghilangkan tiga angka 0 dibelakangnya. Hal itu bisa kita lakukan dengan membagi 1000 dengan angka 1000, bisa dengan mengurangkannya dengan 999, bisa dengan menambahkannya dengan angka (-999) atau mengalikannya dengan angka 0,001
Jadi jika pernah mengalami dilema dalam mengambil keputusan dan merasa bersalah dengan "1" keputusan yang pernah diambil, maka ingatlah bahwa pengorbanan dan langkah "1000" yang sudah dibuat akan sia sia. Jika mengalami dilema dengan hal "1" keputusan yang sudah dibuat maka cobalah untuk bertanggungjawab dengan apa yang sudah diputuskan. Apabila keputusan itu memberikan dampak negatif maka buatlah "1000" langkah baru untuk menjadi lebih baik.
Have a great Day....Depok, 7 Desember 12
Minggu, 20 Mei 2012
DI MATTEO – CHELSEA & SEMANGAT JUANGNYA
Chelsea Jawara Liga Champions 2012 ( Foto : Detik Sport)
Setelah melalui perjuangan dan
penantian yang panjang, akhirnya Chelsea memenangkan drama adu pinalti
dengan Bayern Munchen. Sebuah drama yang menegangkan ada teriakan
bahagia, bangga dan lepas karna kemenangan yang diraih.
Menilik komentar para pemerhati bola
yang memprediksi bahwa selalu lahir juara baru di Olympic Arena(Allianz Arena),
kemenangan Chelsea menguatkan prediksi dan seolah olah menjadi pembenaran bahwa
di Allianz Arena selalu mencetak pemenang baru.
Terlepas prediksi banyak pemerhati bola
baik dalam maupun luar negri, perjuangan Chelsea patut diacungi jempol.
Bagaimana tidak, klub yang sempat tersesok seok di awal liga
Primer Inggris musim 2011-2012 ini, harus berjuang keras untuk mencapai puncak
dengan dominasi tim tim unggulan. Kita tengok ke belakang, di awal
penyisihan liga Champions , Chelsea mengalami cukup banyak tekanan
dari 12 kali kali pertandingan di liga Inggris
hanya 3 kali menang selebihnya seri dan bahkan kalah. Tekanan ini
berujung pada didepaknya manajer tim Andre Villas Boas
di awal 2012 yang lalu.
Kala itu juga muncul rumor yang
beredar bahwa manajer tim mengalami konflik internal dengan
beberapa pemain senior seperti Didier Drogba, John Terry dan yang paling santer
dengan Frank Lampard. Taktik baru dan strategi baru diterapkan oleh Andre
Villas Boas sebagai manajer tim, tak pelak hal ini menjadikan beberapa kali
hasil yang tidak optimal. Ditambah lagi dengan dibangkucadangkannya
beberapa pemain senior dalam beberapa pertandingan. Didir Drogba pemain
yang selalu menjadi starter di setiap laga harus dibangku cadangkan oleh AVB
julukan Andre Villas Boas. AVB lebih memilih Fernando Torres untuk menjadi
starter. Bukan hanya itu saja Frank Lampard juga mengalami nasib yang sama
dengan duduk dibangku cadangan. AVB lebih memilih pemain muda lainnya.
Sebenarnya tidak ada yang salah dari itu semua, namun mengapa terjadi konflik
internal hingga akumulasinya para pemain senior mengkritik taktik yang dipakai
AVB dalam pertandingan di Liga Primer. AVB tidak salah, pun pemain senior
juga tidak bisa disalahkan. Masing masing mempunyai argumentasi sendiri
dan ego sendiri yang seharusnya dapat diselesaikan.
AVB sebagai manajer baru membawa banyak
perubahan dengan memilih menurunkan pemain muda dan konsekwensinya pemain
senior harus legowo untuk menjadi pilihan kedua. Pemain senior yang merasa
lebih tahu tentang tim merasa merekalah yang cukup tahu tentang tim. Seperti
yang dikatakan oleh David Luiz yang dimuat di detiksport beberapa waktu yang
lalu. Menyikapi konflik intern klub itu, Luiz coba menasehati Lampard
agar seniornya di Chelsea itu menyingkirkan ego-nya dan tidak menganggap
dirinya adalah pemain bintang yang tidak tersentuh.
Namun setelah Roberto Di Matteo datang,
Di Matteo mencoba untuk meramu skuad yang sudah ada untuk tetap fokus
meraih kemenangan di laga terakhir. Maklum waktu Di Matteo tidaklah lama hanya
2,5 bulan untuk meraih gelar yang tersisa dalam waktu terbatas. Ternyata dalam
waktu 2,5 bulan Roberto Di Matteo mempersembahkan double winners yaitu piala FA
dan Piala Liga Champions. Sungguh hasil yang sangat luarbiasa. Bagaimana tidak,
Liga Champions adalah Liga bergengsi antar klub di Eropa dan ini gelar pertama
untuk Chelsea sejak klub ini didirikan. Tentu semua orang akan menuju ke siapa
pembesut club ini, lain tidak bukan adalah Roberto Di Matteo.
Roberto bak seorang penyelamat Chelsea
setelah klub ini didera masalah prestasi dan intrik di dalamnya. Bahkan sampai
para pemainpun mempersembahkan piala ini untuk sang pelatih. Sebut saja Didir
Drogba, John Terry, Frank Lampard dan lainnya mempersembahkan piala ini untuk
Di Matteo. Maklum saja sebagai kareteker masa depan Di Matteo masih
dipertanyakan. Lain Di Matteo lain Didir Drogba yang sebentar lagi kontraknya
juga akan segera berakhir. Sebelum pertandingan baik Di Matteo maupun
Drogba tidak lagi berpikir untuk masa depan mereka di klub namun mereka
konsentrasi untuk hasil di laga final di Allianz Arena. Seperti ucapan Drogba
berikut :"Yang paling penting untuk saya saat ini bukanlah masa depan
saya, tetapi tim. Sungguh. Saya ingin memberikan segalanya bagi tim dan
fans-nya. Baru setelah itu kita pikirkan yang lainnya," tukas penyerang
berusia 34 tahun ini sebelum final berlangsung yang dikutip oleh Detiksport
Lain Drogba lain sang pelatih yang meramu
skuad dengan sikap tenangnya dan sepetinya Di Matteo dapat masuk ke tim
dengan gaya manajemennya. Dia dapat meredakan masalah yang ada dan mengajak
bersama sama untuk fokus dan berjuang untuk tim dengan mengesampingkan ego.
Namun Di Matteo juga mempersembahkan kemenangan ini untuk Andre Villas Boas, hal ini kemungkinan karena Di Matteo
ingin mengucapkan terimakasih karna AVB berani memberi kesempatan pemain pemain
muda untuk turun dalam laga sebelumnya, meski hasilnya kurang dari harapan
namun keberanian ini menjadikan para pemain muda untuk lebih percaya diri.
Namun sepakbola bukanlah permainan satu pertandingan saja,semuanya akan
diakumulasi dalam suatu periode tertentu. Seperti Liga inggris, Liga Champions
dan kejuaraan lainnya. Dari perjalanan panjang tersebut AVB bagaimanapun ikut
andil dan berperan dalam terbentuknya skuad yang tangguh meskipun tidak bisa
dikatakan demikian secara mutlak karena musim belum berakhir saat dia dipecat.
Di Matteo menjadi Eksekutor yang dapat meramu dan memoles sesuatu yang sudah
diperjuangkan untuk menjadi suatu kenyataan. Polesan dengan sentuahan rendah hati, mengayomi
dan tangan dinginnya membuahkan hasil yang sempurna.
Meski Chelsea tidak lolos 4 besar di Liga
Inggris yang berarti Chelsea tidak bisa ikut perhelatan liga Champions musim
mendatang. Namun Chelsea tetap tidak menyerah dan dia tahu bagaimana caranya
tetap berada di Liga paling bergengsi tersebut di musim mendatang
dengan cara yang lain yaitu memenangi pertandingan dengan menjadi jawara Liga
Champions 2012.
Banyak pelajaran dari kemenagan ini yaitu
bahwa sesuatu yang kelihatannya di awal kelihatan buruk namun bukan berarti
akan menjadikan hasil yang buruk diakhirnya.Untuk sebuah keberhasilan
sebuah tim, egoisme harus dibuang jauh dan melangkah untuk tujuan bersama.
Keberhasilan tergantung dari usaha, semangat juang, dan percaya diri untuk
menyelesaikan sampai akhir. Jangan pernah berhenti berusaha sebelum semuanya
yang menjadi tujuan kita tercapai.
Congratulation Chelsea!! God Luck Di
Matteo, see u on de next match .....Bravo Olahraga!!!
20 Mei 2012
Sinta Nugraha - pecinta Olahraga
Langganan:
Postingan (Atom)