Kamis, 27 Maret 2014

OPINIKU: Tidak Perlu Terlalu Khawatir Berlebihan

OPINIKU: Tidak Perlu Terlalu Khawatir Berlebihan: "Khawatir adalah hal yang sering kita dengar dan kita alami. Untuk hal yang kecil pun kadang kita sering khawatir apalagi untuk hal d...

Tidak Perlu Terlalu Khawatir Berlebihan

"Khawatir adalah hal yang sering kita dengar dan kita alami. Untuk hal yang kecil pun kadang kita sering khawatir apalagi untuk hal dan tanggung jawab yang besar. Untuk seorang yang baru saja mendapatkan tugas baru, apakah itu dipromosikan atau mendapatkan pekerjaan baru dengan jabatan yang lebih keren dari sebelumnya tentu pernah mengalami rasa khawatir. Mereka mungkin akan  khawatir, bagaimana dia bisa menjalankan tugasnya, khawatir apakah anak buahnya akan senang atau sebaliknya, khawatir apakah nanti bebannya berat atau tidak. Kekhawatiran itu adalah hal yang masih dalam tahap yang wajar.
Namun kita juga sering melihat dan menjumpai ada beberapa kekhawatiran yang sebenarnya tidak perlu terjadi, yaitu kekhawatiran bahwa apakah nanti akan mendapatkan pujian, ataukah sebaliknya. Apakah nanti berhasil menorehkan suatu prestasi atau tidak. Karena saking khawatirnya maka kadang orang dalam kondisi ini akan menerima masukan dari berbagai pihak dengan panik. Semua masukan di dengarkan karena ingin menyenangkan berbagai pihak agar supaya nantinya tujuan tercapai.  Masukan bahwa cara si A dulu salah, cara si B tidak tepat, si D itu begini dan begitu dan akhirnya timbulah suatu kekhawatiran yang diakibatkan oleh gosip dan berdasarkan, "katanya", "katanya" dan "katanya". Dalam hal ini kekhawatian tersebut tidak perlu terjadi apabila kita mempunyai prinsip dan mempunyai arah jelas, pasti dan dapat dipertanggungjawabkan. Mungkin masukan itu perlu, namun masukan juga perlu disaring dan dipilah pilah serta harus berdasarkan bukti dan pedoman serta data yang jelas dan bukan karena “katanya”. Karena jika hal tersebut terjadi maka yang ada adalah keputusan yang tidak fair, atau keputusan berdasarkan asumsi kecurigaan. Atau hal lainnya yang tidak terpikirkan akan timbul dan malah akan menambah banyak kekhawatiran baru.

Kekhawatiran yang lainnya adalah kekhawatiran tentang kita dalam menjalani hidup. Senior pernah bercerita tentang kekhawatiran. Cerita kekhawatiran ini menceritakan tentang dua orang pelancong yang sedang mendaki gunung.

Ada dua orang pelancong Bule yang melakukan pendakian di sebuah gunung. Saat pulang, mereka terpaksa menumpang sebuah mobil rombeng.
Jalannya ter-sendat² karena mesin tuanya.
Sepanjang perjalanan, pelancong pertama sibuk mencemaskan kondisi mobil.

Ia terbekap rasa khawatir jila nanti mobil yang mereka tumpangi akan mogok  di tengah jalan. Ia khawatir kalo bensinnya habis dan tidak ada pom bensin di sana.

Sementara, pelancong kedua tampak santai² saja. Ia begitu menikmati pemandangan indah, melihat bukit-bukit yang mereka lewati. itu.

Sepanjang perjalanan melewati bukit  yang pucuknya dihiasi salju putih.
Beberapa kali ia mengabadikan keindahan itu dengan kamera pocketnya. Setelah satu jam berlalu, akhirnya mobil uzur itu pun tiba di kota yang dituju.

Pelancong bule yang merasa khawatir tersebut bertanya kepada temannya yang menikmati pemandangan , “Kok kamu sempat²nya ambil gambar pemandangan itu? Apa kamu tidak cemas?,” tanya pelancong pertama.

Kata Pelancong kedua : “Apa yang perlu dicemaskan?. Kalau menurut aku seandainya ada masalah, pasti nantikan ada jalan keluarnya”.Jadi aku akan menikmati perjalanan yang aku lakukan, apalagi perjalanan ini baru pertama kali buat aku.”Aku suka dengan perjalanan tadi,” kata pelancong kedua.

Kisah di atas menolong kita untuk memahami bagaimana seringkali kekhawatiran membuat kita kehilangan banyak hal yang berharga. Lebih buruknya lagi, seringkali kekhawatiran itu tidak terbukti separah yang kita khawatirkan atau malah tidak terbukti sama sekali.

Banyak orang hidup dalam kekhawatiran dan cemas mengenai apa yang belum terjadi. Orang sering takut dan tidak tau apa yang ia takuti. Akhirnya, orang seperti ini tidak akan menikmati kehidupan.

Kebahagiaan hidup hanya menjadi milik orang-orang yang mampu menikmatinya dengan penuh syukur.

Waktu hanya sekali berputar, tanggal hanya sekali dalam 1 hari dan akan berbeda lagi untuk esok hari. Ada menit yang harus dilalui dengan MANIS, ada pula menit yang harus dilalui dengan PAHIT. JALANILAH SETIAP DETIK DGN PENUH KESADARAN, AGAR KITA MENJADI LEBIH BIJAKSANA DALAM MENJALANI KEHIDUPAN INI. Berikan yang terbaik yang bisa kita lakukan di manapun kita berada dengan penuh optimis dan berpikiran positif. 
Selamat menjalankan hari dengan Pikiran yang Positif  !

Keep Positive Thingking
and
You will get a lot of Positive Things




Sabtu, 22 Maret 2014

Disiplin di Sekolah Tanggung Jawab Siapa?

Mengantar anak ke sekolah adalah rutinitas setiap pagi, tak terkecuali hari ini saya mengantar anak anak ke sekolah. Rutinitas ini dijalani selama anak anak masih terikat jadwal sekolah . Jam masuk sekolah pukul 06.30, jadi kami harus berangkat selambat lambatnya pukul 06.00 sudah harus keluar komplek. Lebih 1 menit saja, pasti jalanan sudah macet karena yang sekolah bukan hanya anak anak saya saja tetapi juga semua anak Indonesia berangkat pagi untuk bersekolah.

Beruntung beberapa bulan ini sepanjang jalan dari rumah ke sekolah sudah tidak ada pengerjaan galian,atau pengaspalan, sehingga waktu tempuh dari rumah ke sekolah kurang lebih 15 menit. Dengan waktu tempuh itu pasti anak anak tidak akan terlambat ke sekolah.  Sambil menunggu bel berbunyi saya beserta ibu ibu lainnya duduk di pinggiran kelas sambil mengamati anak kita masing masing. Tingkah dan candaan mereka kalau kita dengar pasti agak aneh dan sering membuat kita tersenyum dalam hati. maklum mereka masih polos dan baru tahun pertama di sekolah dasar. Setelah bel berbunyi semua anak tertib masuk ke kelas, dan kami para orang tua berangsur meninggalkan sekolah. Sayup sayup terdengar suara selamat pagi dan mulai berdoa pagi.

Tetapi begitu saya sampai pintu gerbang sekolah yang masih terbuka meskipun  bel sudah berbunyi,  masih ada saja anak yang berdatangan karena terlambat. Memang di sekolah anak saya jika datang terlambat diwajibkan ke ruang guru untuk menuliskan alasan keterlambatan. Atau kalau terlambatnya masih 10 menit diperbolehkan masuk namun setelah selesai berdoa pagi.

Sambil berjalan saya melihat ke lantai 2 karena ada kegaduhan di sana, sepertinya dari kelas 4 yang ternyata memang gurunya belum masuk ke kelas. Kemudian saya melihat 2 orang guru, baru datang menuju ke lantai 2. Rasanya aneh juga , di mana kelas lainnya sudah senyap dengan doa pagi dan mulai pelajaran , masih ada kegaduhan di kelas lainnya karena gurunya datang terlambat ke kelas.

Jika seperti ini sebenarnya siapakah yang tidak disiplin ya? muridnya atau gurunya? pertanyaan lain muncul ketika saya akan meninggalkan sekolah, masih ada saja murid murid yang berdatangan. Pertanyaan usil  saya muncul, sebenarnya  anaknya yang tidak disiplin atau orang tuanya yang mengantar sekolah ya yang tidak disiplin?

Hal yang lebih aneh lagi terjadi masih ada guru yang tergopoh gopoh lari menuju ruang guru untuk mengambil buku pelajarannya dan kemudian lari menuju kelasnya padahal bel sudah berbunyi kira kira 10 menit yang lalu. Sekarang saya baru tahu kenapa pintu gerbang sekolah tidak ditutup, hal itu untuk memfasilitasi mereka yang terlambat baik murid, guru, dan orang tua yang terlambat mengantar anaknya.

Jadi sebenarnya disiplin itu siapa yang harus menerapkan? anak? orang tua? guru? pihak sekolah? atau semuanya?
Kita sebagai orang tua, guru dan panutan anak anak, harus mulai menerapkan disiplin dari diri sendiri dan tentunya disertai komitmen kepada mereka. Pesan buat guru dan sekolah supaya memberikan komitmen yang tegas tentang disiplin, karena semua tingkah laku orang dewasa di seluruh Indonesia dimulai dari disiplin yang mereka terapkan sejak kecil. Jika tidak ada disiplin pastilah banyak ditemua kesemrawutan di mana mana, seperti yang sering kita jumpai.

Rabu, 19 Maret 2014

Semua Berasal dari Kebiasaan

Hari ini 19 Maret 2014, saya mendapatkan email dari pengajar senior yang selalu tidak henti hentinya mengirimkan tulisan tulisan inspiratifnya. Tulisan inspiratif ini tentu bukan hanya tulisan beliau sendiri, tulisan inspiratif ini mungkin dari berbagai macam sumber.

Berikut tulisan inspiratif tentang sesuatu yang besar baik itu positif maupun negatif semua berawal dari kebiasaan yang dilakukan. Tanpa kita sadari kebiasaan akan berkumpul dan menumpuk bahkan dapat berakar dan menjalar seperti akar pohon yang begitu kuat.


Kebiasaan itu dapat berupa kebiasaan baik ataupun kebiasaan buruk. Kebiasaan baik atau kebiasaan  buruk yang kita lakukan menjadikan kita terbiasa, dan terakumulasi sehingga membentuk suatu tindakan yang tanpa kita sadari akan muncul dalam keseharian sehingga menimbulkan sebuah karakter yang kuat.


Suatu hari seorang tua bijaksana berjalan melalui hutan bersama anak muda yang terkenal tidak bertanggung-jawab dan kepala batu.

Orang tua itu menghentikan langkahnya, lalu menunjuk sebuah pohon yang masih kecil, “Cabutlah pohon itu”, katanya. Segera pemuda itu membungkuk, dan hanya dengan dua jari saja ia dapat mencabut pohon itu.

Setelah berjalan lebih jauh lagi, orang tua itu berhenti di depan sebuah pohon yang agak besar. “Coba cabut pohon ini”, katanya. Sekali lagi pemuda itu menuruti perintahnya, namun kali ini dia menggunakan kedua tangannya dan dengan sekuat tenaga mencabut pohon itu sampai ke akarnya.

Akhirnya, mereka berhenti di dekat sebuah pohon yang sangat besar. “Sekarang, cabutlah pohon ini!”, perintahnya lagi.

“Wah, itu tidak mungkin!” protes pemuda itu. “Aku tidak dapat mencabut pohon sebesar ini, untuk memindahkannya diperlukan sebuah buldozer!”

“Engkau benar sekali”, jawab orang tua itu. “Kebiasaan, entah baik ataupun buruk, sama seperti pohon-pohon itu..."

Kebiasaan yang belum berakar dalam seperti pohon yang masih sangat kecil, dapat dicabut dengan sangat mudah.

Kebiasaan yang akarnya mulai mendalam seperti pohon yang sudah agak besar, untuk mencabutnya diperlukan usaha dan tenaga yang kuat.

Kebiasaan yang sudah sangat lama, telah berurat akar sangat dalam dan mencengkeram, sehingga orang itu sendiri tidak bisa lagi mencabutnya.

Oleh karena itu, berhati-hatilah membentuk kebiasaan. Jagalah agar kebiasaan yang sedang ditanamkan adalah kebiasaan baik.

Coba ambil waktu dan mari kita selidiki diri kita. Adakah kebiasaan buruk kita yang masih sangat kecil tertanam di diri kita?

Adakah ‘pohon’ buruk yang sudah agak besar?

Yang lebih penting, adakah ‘pohon’ besar yang sudah tertanam begitu lama?

Jika ada, carilah penyelesaian masalah atas kebiasaan buruk kita dan marilah berubah.

Selamat introspeksi diri dan berani mengambil keputusan untuk melakukan perubahan ke arah yang benar dan lebih baik dari hari ke hari.

Terimakasih untuk Senior saya atas email ini.

Kamis, 27 Februari 2014

cerita perjuangan yang inspiratif

Hari ini, saya membuka email saya dan mendapatkan email yang cukup inspiratif dari salah satu kolega yang disebarkan melalui millis. Entah siapa yang pertama kali menuliskan cerita ini, namun bagi saya tidak ada salahnya jika cerita ini saya bagikan dalam blog ini untuk dapat dibaca oleh teman teman saya. Sebelumnya saya minta ijin untuk menyebarkan tulisan ini yang saya tulis ulang. Untuk penulis pertama yang mengunggah tulisan ini di millis mohon ijin untuk share di blog ini.

Cerita ini berkisah tentang seseorang yang mempunyai mimpi besar dan berjuang untuk mewujudkannya tanpa pernah dia tahu hal itu akan terwujud di kemudian hari. Bagi pengguna smartphone pasti tidak asing lagi dengan aplikasi whatsApp. Aplikasi ini populer setelah aplikasi BBM, dan sebelum aplikasi lainnya seperti line.kakao talk dll. Banyak yang belum tahu siapa sebenarnya pencetus aplikasi WhatsApp, namun belakangan setelah aplikasi ini dibeli oleh perusahaan besar barulah semua tahu siapa sebenarnya Jan Koun.



Jan Koun, pendiri WhatsApp(WA), lahir dan tumbuh di Ukraina dari keluarga yang relatif miskin. Saat usia 16 thn ia nekat pindah ke Amerika, demi mengejar apa yang kita kenal sebagai  "American Dream". 

Di usia 17 tahun, ia hanya bisa makan dari jatah pemerintah. Ia nyaris menjadi gelandangan!!!  Tidur beratap langit, beralaskan tanah. Utk ber-tahan hidup, dia bekerja sebagai tukang bersih supermarket. Hidup begitu pahit, begitu Koun membatin. 

Hidup mereka kian terjal saat ibunya di diagnosa kanker. Mereka lalu hidup hanya dengan tunjangan kesehatan seadanya. Koun lalu kuliah di San Jose University. Tapi ia milih drop out. Ia lebih suka belajar programming secara otodidak.

Karena keahliannya sebagai programer,  Jan Koun, diterima bekerja sebagai engineer di Yahoo. Ia bekerja di Yahoo selama 10 thn. Selama bekerja di Yahoo   ia berteman akrab dengan Brian Acton. Mereka berdua bikin WA thn 2009. Setelah resign dari Yahoo, mereka berdua sempat melamar ke Google namun tidak diterima.



Setelah whatsApp resmi dibeli dengan harga 209 triliun, Jan Koun melakukan ritual yang mengharukan. Ia datang ke tempat di mana ia dulu setiap pagi antri untuk dapat jatah makan saat ia masih remaja miskin berusia 17 tahun.Ia menyandarkan kepalanya ke dinding tempat ia dulu antri dan mengenang saat itu  bahkan untuk makan ia tidak punya uang. Pelan2 air matanya meleleh. Ia tak pernah menyangka perusahaannya dibeli dengan harga  yang fantastis. Ia lalu terkenang ibunya yang sudah meninggal (karena kanker). Ibunya, yang rela menjahit baju buat dia demi menghemat. Tak ada uang, nak...  Jan Koun tercenung. Ia menyesal tak pernah bisa mengabarkan berita ini kepada ibunya.  

"Di tempat ini, nasib hidup saya pernah dipertaruhkan ...",  begitu mungkin Jan Koun berbisik dalam hati. 

Rezeki mungkin datang dari arah yang tak terduga.Remaja miskin yang dulu mendapat jatah makan sekarang berubah menjadi milyader. 

Terimakasih kepada penulis yang sudah membagikan cerita ini secara tidak langsung kepada saya dan kepada teman2 melalui blog ini. Tetap semangat bagi teman2 yang masih berjuang, karena rejeki akan datang dari mana saja tanpa kita duga selama kita mau berusaha.....................     
... 

Kamis, 06 Desember 2012

“1000” LANGKAH MENUJU ”1” KEPUTUSAN

Tahukan anda jika dalam mengambil suatu keputusan kita sering mengalami kebimbangan, ragu ragu, rasa tidak percaya diri, ketakutan, ancaman, atau efek lainnya yang akan ditimbulkan dari sebuah keputusan itu.

Kita mulai dari langkah awal kenapa kita harus mengambil suatu keputusan. Pertama kita dihadapkan dalam suatu masalah yang harus kita ambil keputusannya. Kedua kita menghadapi suatu pilihan sehingga kita harus memilih mana yang harus kita putuskan. Ketiga dalam hal kita dalam kebimbangan dimana kita harus membuat suatu langkah supaya kita keluar dari kebimbangan. Keempat adalah hal hal lain yang harus kita ambil dalam membuat suatu keputusan baik pribadi, kelompok maupun di dalam pekerjaan.

Seribu langkah disini artinya adalah usaha keras kita untuk akhirnya memilih, mengambil keputusan, waktu berpikir, usaha yang kita keluarkan, perhitungan resiko, pencarian data dan informasi dan hal lainnya yang akan menguatkan kita sehingga kita mengatakan " ya" ini jalan yang saya ambil. Itu adalah Seribu(1000) langkah yang sudah kita lalui dan akhirnya kita memilih "1" keputusan diantara "1000" alternatif yang seharusnya kita hargai sebagai usaha keras kita untuk menciptakan nilai"1" itu.

Kadang ada sebagian orang yang menyesali telah membuat "1" keputusan dan dia mencoba untuk mengambil alternatif lainnya. Mereka yang memilih itu pasti melupakan bahwa dia sudah berkorban dengan mencoba menghapus "1000" langkah yang dia sudah lalui dalam membuat " 1" Keputusan tersebut. Secara matematis nilai "1000" untuk menjadi angka "1" maka kita harus menghilangkan tiga angka 0 dibelakangnya. Hal itu bisa kita lakukan  dengan membagi 1000 dengan angka 1000, bisa dengan mengurangkannya dengan 999, bisa dengan menambahkannya dengan angka  (-999) atau  mengalikannya dengan angka  0,001

Jadi jika pernah mengalami dilema dalam mengambil keputusan dan merasa bersalah dengan "1" keputusan yang pernah diambil, maka ingatlah bahwa pengorbanan dan langkah  "1000"  yang sudah dibuat akan sia sia. Jika mengalami dilema dengan hal "1" keputusan yang sudah dibuat maka cobalah  untuk bertanggungjawab dengan apa yang sudah diputuskan. Apabila keputusan itu memberikan dampak negatif maka buatlah "1000" langkah baru untuk menjadi lebih baik. 

Have a great Day....Depok, 7 Desember 12

Minggu, 20 Mei 2012

DI MATTEO  – CHELSEA & SEMANGAT JUANGNYA
                       



Chelsea Jawara Liga Champions 2012 ( Foto : Detik Sport) 
Setelah  melalui perjuangan  dan penantian yang panjang, akhirnya Chelsea memenangkan drama adu pinalti  dengan  Bayern Munchen. Sebuah drama yang menegangkan ada teriakan bahagia, bangga dan lepas karna kemenangan yang diraih.


Menilik komentar para pemerhati  bola yang memprediksi bahwa selalu lahir juara baru di Olympic Arena(Allianz Arena), kemenangan Chelsea menguatkan prediksi dan seolah olah menjadi pembenaran bahwa di  Allianz Arena selalu mencetak pemenang baru.

                                           
Terlepas prediksi banyak pemerhati bola baik dalam maupun luar negri, perjuangan Chelsea patut diacungi  jempol.  Bagaimana tidak, klub yang   sempat tersesok seok di awal liga Primer Inggris musim 2011-2012 ini, harus berjuang keras untuk mencapai puncak dengan  dominasi tim tim unggulan. Kita tengok ke belakang, di awal penyisihan liga Champions , Chelsea mengalami  cukup banyak tekanan   dari  12 kali  kali pertandingan di liga Inggris   hanya 3 kali menang selebihnya seri dan bahkan kalah. Tekanan ini berujung pada didepaknya manajer   tim  Andre Villas Boas  di awal 2012 yang lalu.

Kala itu juga muncul  rumor yang beredar  bahwa manajer tim  mengalami konflik internal dengan beberapa pemain senior seperti Didier Drogba, John Terry dan yang paling santer dengan Frank Lampard. Taktik baru dan  strategi baru diterapkan oleh Andre Villas Boas sebagai manajer tim, tak pelak hal ini menjadikan beberapa kali hasil yang tidak optimal. Ditambah lagi dengan  dibangkucadangkannya beberapa pemain senior dalam beberapa pertandingan. Didir  Drogba pemain yang selalu menjadi starter di setiap laga harus dibangku cadangkan oleh AVB julukan Andre Villas Boas. AVB lebih memilih Fernando Torres untuk menjadi starter. Bukan hanya itu saja Frank Lampard juga mengalami nasib yang sama dengan  duduk dibangku cadangan. AVB lebih memilih pemain muda lainnya. Sebenarnya tidak ada yang salah dari itu semua, namun mengapa terjadi konflik internal hingga akumulasinya para pemain senior mengkritik taktik yang dipakai AVB dalam pertandingan di Liga Primer.  AVB tidak salah, pun pemain senior juga tidak bisa disalahkan. Masing masing mempunyai  argumentasi sendiri dan ego sendiri yang seharusnya dapat diselesaikan.


AVB sebagai manajer baru membawa banyak perubahan dengan memilih menurunkan pemain muda dan  konsekwensinya pemain senior harus legowo untuk menjadi pilihan kedua. Pemain senior yang merasa lebih tahu tentang tim merasa merekalah yang cukup tahu tentang tim. Seperti yang dikatakan oleh David Luiz yang dimuat di detiksport beberapa waktu yang lalu.   Menyikapi konflik intern klub itu, Luiz coba menasehati Lampard agar seniornya di Chelsea itu menyingkirkan ego-nya dan tidak menganggap dirinya adalah pemain bintang yang tidak tersentuh.


Namun setelah Roberto Di Matteo datang,  Di Matteo mencoba untuk meramu skuad yang sudah ada untuk tetap fokus meraih kemenangan di laga terakhir. Maklum waktu Di Matteo tidaklah lama hanya 2,5 bulan untuk meraih gelar yang tersisa dalam waktu terbatas. Ternyata dalam waktu 2,5 bulan Roberto Di Matteo mempersembahkan double winners yaitu piala FA dan Piala Liga Champions. Sungguh hasil yang sangat luarbiasa. Bagaimana tidak, Liga Champions adalah Liga bergengsi antar klub di Eropa dan ini gelar pertama untuk Chelsea sejak klub ini didirikan. Tentu semua orang akan menuju ke siapa pembesut club ini, lain tidak bukan adalah Roberto Di Matteo.


Roberto bak seorang penyelamat Chelsea setelah klub ini didera masalah prestasi dan intrik di dalamnya. Bahkan sampai para pemainpun mempersembahkan piala ini untuk sang pelatih. Sebut saja Didir Drogba, John Terry, Frank Lampard dan lainnya mempersembahkan piala ini untuk Di Matteo. Maklum saja sebagai kareteker masa depan Di Matteo masih dipertanyakan. Lain Di Matteo lain Didir Drogba yang sebentar lagi kontraknya juga akan segera berakhir.  Sebelum pertandingan baik Di Matteo maupun Drogba tidak lagi berpikir untuk masa depan mereka di klub namun mereka konsentrasi untuk hasil di laga final di Allianz Arena. Seperti ucapan Drogba berikut :"Yang paling penting untuk saya saat ini bukanlah masa depan saya, tetapi tim. Sungguh. Saya ingin memberikan segalanya bagi tim dan fans-nya. Baru setelah itu kita pikirkan yang lainnya," tukas penyerang berusia 34 tahun ini sebelum final berlangsung yang dikutip oleh Detiksport


Lain Drogba lain sang pelatih yang meramu skuad dengan sikap  tenangnya dan sepetinya Di Matteo dapat masuk ke tim dengan gaya manajemennya. Dia dapat meredakan masalah yang ada dan mengajak bersama sama untuk fokus dan berjuang untuk tim dengan mengesampingkan ego. Namun Di Matteo juga mempersembahkan kemenangan ini untuk Andre Villas Boas, hal ini kemungkinan karena Di Matteo ingin mengucapkan terimakasih karna AVB berani memberi kesempatan pemain pemain muda untuk turun dalam laga sebelumnya, meski hasilnya kurang dari harapan namun keberanian ini menjadikan para pemain muda untuk lebih percaya diri. Namun sepakbola bukanlah permainan satu pertandingan saja,semuanya akan diakumulasi dalam suatu periode tertentu. Seperti Liga inggris, Liga Champions dan kejuaraan lainnya. Dari perjalanan panjang tersebut AVB bagaimanapun ikut andil dan berperan dalam terbentuknya skuad yang tangguh meskipun tidak bisa dikatakan demikian secara mutlak karena musim belum berakhir saat dia dipecat. Di Matteo menjadi Eksekutor yang dapat meramu dan memoles sesuatu yang sudah diperjuangkan untuk menjadi suatu kenyataan. Polesan dengan sentuahan  rendah hati, mengayomi dan tangan dinginnya membuahkan hasil yang sempurna.


Meski Chelsea tidak lolos 4 besar di Liga Inggris yang berarti Chelsea tidak bisa ikut perhelatan liga Champions musim mendatang. Namun Chelsea tetap tidak menyerah dan dia tahu bagaimana caranya tetap berada di Liga paling bergengsi tersebut  di musim  mendatang dengan cara yang lain yaitu memenangi pertandingan dengan menjadi jawara Liga Champions 2012.


Banyak pelajaran dari kemenagan ini yaitu bahwa sesuatu yang kelihatannya di awal kelihatan buruk namun bukan berarti akan menjadikan hasil yang buruk diakhirnya.Untuk sebuah  keberhasilan sebuah tim, egoisme harus dibuang jauh dan melangkah untuk tujuan bersama. Keberhasilan tergantung dari usaha, semangat juang, dan percaya diri untuk menyelesaikan sampai akhir. Jangan pernah berhenti berusaha sebelum semuanya yang menjadi tujuan kita tercapai.

                                          
Congratulation Chelsea!! God Luck Di Matteo, see u on de next match .....Bravo Olahraga!!!



20 Mei 2012
Sinta Nugraha -  pecinta Olahraga